Sabtu, 11 Oktober 2008

K a s i h


K A S I H

oleh: Bunda Teresa


Suatu Malam, seorang laki-laki datang ke rumah kami dan berkata, “Ada keluarga dengan delapan anak yang sudah berhari-hari tidak makan.” Maka aku pergi membawakan makanan untuk mereka.
Ketika aku tiba di sana kulihat wajah anak-anak itu begitu menderita karena kelaparan.Tidak ada kepedihan atau kesedihan di wajah mereka, hanya derita yang dalam karena menahan lapar.
Kuberikan nasi yang kubawa pada sang ibu. Ia membagi nasi itu menjadi dua bagian, lalu keluar membawa setengahnya. Ketika ia kembali, kutanyakan kepadanya, “Kau pergi ke mana?” Ia memberiku jawaban sederhana ini, “Ke tetangga-tetanggaku. Mereka juga lapar.”
Aku tidak heran kalau ia membagi nasi itu dengan tetangga-tetangganya, sebab orang miskin biasanya justru sangat pemurah Tapi aku heran bahwa ia tahu mereka lapar. Biasanya kalau sedang menderita, kita begitu terfokus pada diri sendiri, sehingga tidak punya waktu untuk memikirkan orang lain. ( oleh; Bunda Teresa dari Calcuta)

Beriman mendalam di tengah kemajemukan.

Dunia masa kini adalah suatu yang majemuk. Dimanapun manusia berada di atas bumi ini, ia pasti hidup dalam kemajemukan, dalam kebersamaan dengan saudara- saudara yang berbeda agama, yang berbeda suku, yang berbeda faham politik dan lain sebagainya. Dalam situasi kondisi semacam ini, membangun dan mengembangkan tolerasi dalam kehidupan beragama adalah suatu keniscayaan. Benar bahwa agama itu sendiri tidak dapat ditoleransikan, sebab agama menyangkut dogma, ritus, ajaran dan hukum-hukum tertentu. Namun Itu bukan berarti manusia tidak dapat hidup berdampingan dengan damai bersama mereka yang berkeyakinan lain. Justru dalam kebersamaan yang majemuk, yang plural itulah setiap orang beriman dipanggil pula untuk mengembangkan toleransi dalam hidup beragama.

Langkah positif untuk menempuh dan menapaki jalan-jalan tolerasni dalam bidang keagamaan adalah dengan dengan sutau dialog. Ketika saya masih kuliah teologi di Jogja saya justru cukup sering ikut diskusi atau pertemuan-pertemuan dengan teman-teman muslim di kampus IAIN sunan kalijaga. Tak jarang saya malahan diminta oleh teman-teman mahasiswa itu untuk memberikan renungan dalam bulan Ramadan. Bersama mereka saya banyak membuat kegiatan sosial dan membentuk komunitas dialog antar agama.Saya tidak mengalami kesulitan dalam berbagi pengalaman rohani bersama mereka. Justru bersama teman-teman yang berbeda-beda agama, suku dan sebagainya, kami mengalami pengalaman-pengalaman yang unik dan indah sebagai orang beriman. Bagi saya kuncinya adalah pengalaman dicintai dan mencintai Allah dan sesama.

Pengalaman itu menyakinkan saya bahwa dialog antar umat beragama dan antar iman bukan sekedar suatu cara hidup bersama dengan umat beragama lain, melainkan suatu bagian pokok dan penting dari pengalaman rohani, yaitu pengalaman dicintai Allah dan sesama yang mendorong seseorang untuk mencintai Allah pula melampaui segala hal dan mencintai sesma sperti diri sendiri.

Karena itu syarat utama dan pertama membangun sikap toleransi dengan dialog adalah pemahaman satu sama lain, justru karena perbedaan-perbedaan yang ada. Memahami persepsi atau cara memandang yang digunakan sesama orang berdeda keyakinan adalah syarat pertama mengembangkan tolerasni dengan dialog. Dalam kerangka pikir iman kristiani disebut dengan misteri inkarnasi. Allah hendak membangun tolerasi dengan manusia melalui dialog. Satu-satunya cara adalah dengan memahami cara hidup manusia, cara berbahasa manusia, cara manusia memandang hidupnya. Maka Allah menjadi manusia dalam diri Yesus yang disebut Kristus.

Penglaman ini dapat saya bandingkan dengan penglaman saya saat di kampung di jawa tengah sana dan ikut serta memberi makan kambing. Untuk menyapa kambing saya harus menggunakan bahasa kambing. Saya pasti akan ditertawakan anak kecil kalau saya menyapa dan memanggil kambing dengan berteriak “Kambing! Kambing! Sini dong! Dengan cara ini, saya tidak pernah menyapa kambng, dan kambingpun cuek kepada saya. Lain halnya kalau saya menyapa dan memanggil kambing dengan bahasa kambing di kampung saya itu, yaitu dengan mengatakan “mbeek.. mbeekk..! Dengan cara ini serta merta kambing akan memalingkan wajahnya kepada saya, mungkin mengira saya temannya atau sejenis dengannya. Saya dapat berteman dengan dia dan membelainya serta memberinya makan dengan tenang. Hal sama kitanya juga berlaku kalau kita mau menyapa ayam atau kucing atau lainnya. Untuk menyapa ayam kita harus menggunakan bahasa ayam, yakni berteriak Kur .. kur ..kur..! Untuk menyapa kucing kita harus sedikit berbicara lembut Pus.. pus… pus.. Dengan cara ini kucing atau ayam akan mendekat dan mengenali kita.

Cara yang sama juga ditempuh oleh Allah dalam memanggil dan menyapa manusia. Untuk menyapa dan memanggil manusia Allah menggunakan cara manusia, menggunakan bahasa manusia. Demikian pula dengan tolerasi melalui dialog. Langkah ini hanya akan berdaya guna jika antar umat manusia saling memahami bahasa satu sama lain! Dengan demikian sesama dipahami sebagai pribadi yang sama.

Dialog antar umat beragama akan berjalan baik kalau dialami sebagai hubungan antar personal, hubungan mendalam antar pribadi. Sapaan-sapaan yang peribadi membuat seseorang tidak mampu mengelak dan menghindari. Sapaan-sapaan pribadi memungkinkan siakan saling terbuka dan bekerja sama dalam segala hal. Sapaan-sapaan yang prbadi mengangkat martabat manusia sebagai manusia, bukan sebagai barang atau benda-benda yang tidak berharga.

Maka membangun, mengusahakan terciptanya dialog dan toleransi antar manusia tidak lain adalah mewujudkan penghayatan iman yang lebih mendalam. Sebab penghayatan iman yang mendalam menyangkut dimensi sikap, ungkapan, dan perwujudan, entah secara batin, sosial maupun relasional. Dalam tataran perwujudan iman inilah toleransi dan dialog dapat dibangun. Dan perwujudan iman adalah titik temu dan ajang membangun kerja sama dengan membina persaudaraan sejati yang paling konkret.
agungstd

Sabtu, 04 Oktober 2008

Fulda

Bulan Juli 2008 tepatnya tanggal 3, saya berangkat ke Jerman. Ini untuk pertama kalinya saya mengunjungi negeri Bruder Grimm. Hari itu saya mendarat di Bandara Frankfrut kemudian menuju ke stasiun kereta antar kota karena saya hendak menuju ke Fulda. Siang itu sekitar jam 2, saya sampai di Biara Santa Maria am Frauenberg, Fulda. Lelah juga, soalnya tadi jalan kaki sekitar 2 km dari Stasiun menuju Biara. Lebih lagi jalannya menanjak.

Fulda adalah sebuah kota tua yang berada di tengah atau pusat negeri Jerman. Letaknya sekitara 100 km dari Frankfrut dan berada di daerah aliran Sungai Rein. Udaranya sejuk, bahkan juga di musim panas seperti sekarang ini. Secara umum udaranya cukup segar karena di kota ini masih banyak kita temukan taman dan pepohonan yang hijau asri. Kota Fulda ini sangat bersejarah bagi perkembangan negeri Jerman, sebab di Kota ini dahulu Santo Bonifatius pernah tinggal dan mewartakan Ajaran Kristus. Dengan demikian sejak abad ke-9 kota ini sudah menjadi pusat perkembangan negeri Jerman.

Saya berada di Fulda selama sekitar sebulan setengah. Saya tinggal di Franziskanerkloster am Frauenberg dan belajar Bahasa Jerman.

Senin, 30 Juni 2008

Basilika St Maria Para Malaikat, Porziuncola, Assisi






Sudah beberapa kali saya mengunjungi kota Assisi. Setiap kali sampai di kota ini saya melihat bahwa kota ini tidak amat istimewa secara gografis. Berada di atas bukit kecil Subasio. Dan sekarang nampak begitu padat dengan penduduk, pasar, orang berjualan suvenir, restoran dll. Sehingga tak beda dengan berada di tengah kota yang sumpek, apalagi takkurasakan udara yang segar.

Bagi saya yang lebih menarik adalah Porziuncola. Sebuah kota kecil, mungkin lebih tepat saya sebut desa, di bagian luar kota Assisi. Porziuncola terasa lebih asri. di dekat tempat ini masih kutemukan kebun-kebun hijau dan udara segar terhirup nikmat. Saya paling senang berada di Gereja Maria Para Malaikat di Porziuncola ini. Di sekitar Basilika ini kita dapat temukan taman dan pepohonan rindang. Demikian juga kalau memasuki Basilika, akan terasa lebih lega, terang dan megah. Kebanyakan Basilika memang megah tetapi terasa sumpek karena sinar matahari tak masuk menerangi.

Di Dalam Basilika ini ada sebuah Gereja (lebih tepat kapel) yang mungil. (lihat pada gambar). Kapel Porziuncola ini memang suatu yang istimewa. Dan Basilika yang megah ini dibangun memang untuk mengenang nilai sejarah dan religius dari adanya Kapel tersebut. Kapel Porziuncola dibangun oleh Santo Fransiskus Assisi dan para sahabatnya pada abad 13 Masehi. Setiap kali aku mengunjungi tempat ini aku selalu berlama-lama berada di dalam kapel ini. untuk berdoa tapi juga untuk diam sejenak, kadang pula sampai terkantuk kantuk he he he.

Di dalam basilika ini juga di buat suatu kapel lain yang disebut sebagai kapel Transitus. Disebut demikian karena kapel ini dibangun untuk mengenangkan saat kematian Fransiskus, saat Fransiskus berpindah dari hidup di dunia ke hidup di surga. Di samping kapel Transitus ini masih terpelihara sel (ruangan kecil) dimana Fransiskus menghembuskan nafas terakhirnya.

Dahulu disekeliling kapel Porzuncola ini, ada beberapa rumah tempat Fransiskus dan para sahabatnya tinggal. Dari tempat ini pula Fransiskus membangun dan memperkembangkan Tarekat Saudara Saudara Dina (OFM). Jadi Basilika ini dibangun di atas tempat dimana St. Fransiskus dan para sahabatnya memulai dan menumbuhkembangkan hidup seturut Injil.

Kamis, 26 Juni 2008

Ostia Antica






Ujian akhir tahun baru saja selesai. Masa liburan datang. Pagi itu 20 Juni 2008 kurang lebih jam 09.00 saya bersama beberapa teman bersiap untuk mengadakan kunjungan ke Ostia Antica. Awalnya kumengira dia ada di dalam kota Roma, eh ternyata berada di luar kota Roma. Perjalanan menuju tempat itu kami tempuh dengan Kereta Listrik dari Stasiun Porta St. Paolo, Ostiense. Kami mengambil kereta Jurusan Lido C. Colombo, berangkat pukul 09.16 Perjalanan dengan kereta ini ditempuh sekitar 40 menit. Kami turun di Stasiun Ostia Antica, lalu jalan kaki sekitar 15 menit.

Ostia Antica adalah suatu situs arkeologi dari sebuah kota tua yang berada di dekat muara Sungai Trastevere dan berada di pantai Laut Tirrene. Kota Ostia mulai bertmbuhdari sebelum abad 4 Sebelum Masehi. Dalam reruntuhan Kota Ostia, masih tersisa berbagai bangunan yang menakjubkan: Suatu bangunan Teater yang digabung dengan Kuil Pemujaan yang dikellingi dengan pasar. Ada beberapa kuil kecil pemujaan Dewa-Dewi tertentu dan ada pula Sinagoga yang pernah dipakai oleh orang-orang Yahudi diaspora. Di sudut lain terdapat pula tempat ibadah kelompok Kristen.

Kota ini dihuni selama kurang lebih sepuluh abad. Kejayaan Ostia nampak pada sekitar abad kedua Masehi. namun mulai pudar pada setelah abad ke enam masehi.

Saya tidak sempat mengunjungi seluruh sudut kota ini. Saya sempa mengunjungi tempat pemakaman di pinggir kota, beberapa jalan utama dan bekas-bekas rumah serta tempat pemandian, juga saya mengunjungi Bangunan Teater yang masih berdiri tegak, kuil2 dan juga jalan utama yang di pingginya terdapat bekas tempat berjualan. Kunjungan saya berakhir di sebuah tempat pemujaan dewa-dewa yang digambarkan dengan simbul-simbul bintang (planet). Sekitarjam 13.oo perutku terasa laper banget maka kamipun segera mencari tempat untuk mengisi perut.

Selepas makan saya segera cabut dan pulang. Lumayan lelah juga jalan-jalan hari ini.


Senin, 16 Juni 2008

cuplikan film forest gump

Aku pertama kali menonton film ini pada awal tahun 1995, lalu beberapa kali aku menontonnya lagi. Film ini sungguh mengesan bagi hidupku: mengingatkan aku bahwa semangat, keyakinan dan kemauan akan membuat hidup benar2 hidup.
Keajaiban memang selalu terjadi setiap hari, juga dalam hal-hal yang sepele. Sebab DIA yang Mahakasih selalu hadir menyertai manusia dan setiap ciptaanNya.

Sabtu, 14 Juni 2008

si kaki tiga



Ini bukan si 'Baba' anjing kecilku, tetapi sekor anjing yang kutemui di Santuario San Gabriele Posenti di Teramo Italia. Biarpun kakinya cuma tiga, tetapi dia amat baik. tidak kelihatan sedih. bahkan boleh dikatakan ramah terhadap para pengunjung di Santuario. Ketika kufoto ia malah bergaya dangan menjulurkan lidahnya he he.

  Bunda Maria dan Santo Yusuf , doakanlah kami   Upaya Keuskupan Agung Jakarta (KAJ)     untuk menjadi Gerakan dan Persekutuan umat Alla...